Selasa, 07 Mei 2013

5 MODEL KEMISKINAN YANG MENJADI BENCANA BAGI KITA

Saudaraku… Miskin, barangkali satu keadaan yang menjadi momok menakutkan dan paling tidak diminati oleh sebagian besar dari kita. Bahkan keberadaan kita di negeri rantau ini dan meninggalkan kampung halaman, salah satu faktor penggeraknya adalah lari dari kemiskinan dan memahat masa depan indah secerah mentari pagi. Padahal jika kita cermati arahan nubuwah, kita dapati berbagai sumber yang menunjukan perihal kemuliaan dan kedudukan istimewa yang disandang orang-orang miskin. “Orang-orang miskin dari umatku masuk ke dalam surga sebelum orang-orang kaya dengan selisih waktu lima ratus tahun.” H.R; Tirmidzi dan Ahmad. Salah satu do’a yang biasa dibaca oleh Nabi saw, adalah: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar dimudahkan melakukan kebaikan dan meninggalkan kemunkaran serta aku memohon kepada-Mu agar selalu mencintai orang-orang miskin..” H.R; Tirmidzi, Ahmad dan dishahihkan oleh syekh Al Bani. Dua hadits di atas dan riwayat lain yang senada dengan itu, menunjukan perihal kedudukan orang-orang miskin dan keutamaan mencintai mereka. Untuk itu saudaraku… Rasulullah saw dan sebagian sahabatnya, seperti Abu Dzar, Abu Darda’, Said bin Amir al Jumahi dan lainnya, menjadikan kemiskinan sebagai pilihan hidupnya. Di era tabi’in, kaum yang lemah secara finansial mendapatkan perlakuan istimewa. Contohnya, di majlis ilmu dan hadits Sufyan Atsauri, orang-orang yang tak punya, menempati majlis yang berdekatan dengan sang guru. Suatu saat, ada seorang laki-laki memberi hadiah 10.000 dirham kepada Ibrahim bin Adham tetapi ia menolaknya seraya berucap, “Apakah engkau ingin menghapus namaku dari daftar orang-orang miskin?, tentu aku tak menginginkan hal itu.” Saudaraku.. Sanggupkah kita menolak secara halus orang yang memberi hadiah kepada kita lima ribu real, 10 juta rupiah, 3000 dolar dan seterusnya? Wallahu a’lam bishawab. Dan yang perlu kita waspadai, bahwa di sana ada 5 model kemiskinan yang akan menjadi musibah bagi kita di dunia dan menjadi bencana besar di akherat. Empat model kemiskinan itu disebutkan oleh DR. Mustafa Siba’i dalam bukunya “hakadza allamatnil hayat.” Yaitu; Miskin agama (iman), miskin akal (ilmu pengetahuan), miskin kesabaran dan miskin muru’ah. Dan kita tambahkan model kelima dari kemiskinan, yakni; miskin hati. Saudaraku.. Perjudian yang marak di mana-mana, pada perhelatan Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina. Prostitusi dari kelas bawah, menengah sampai kelas atas yang menjamur. Kasus korupsi yang tak ada habisnya. Masjid, musholla, suro dan langgar yang sepi dari jama’ah shalat. Dan yang senada dengan itu. Adalah fakta lemahnya pemahaman dan pengamalan agama dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Islam hanya menjadi lipstick pemanis dan baju yang dikenakan oleh si empunya. Seperti judul buku tanpa isi. Jika kita miskin agama (iman), maka kita tak akan sanggup menepis godaan syahwat yang melambai-lambai di sekitar kita dan tak mampu menahan derasnya fitnah. Sehingga pada akhirnya kita menjadi budak syahwat lisan, perut dan kemaluan. Wal ‘iadzu billah. Saudaraku.. Miskin akal (ilmu pengetahuan), merupakan bencana dalam hidup kita. Terlebih bagi kita sebagai insan beriman. Ilmu ibarat obor dan pelita dalam hidup kita. Pernahkah kita membayangkan, jika suatu saat hidup kita walau hanya satu pekan atau satu malam saja tanpa pelita penerang? Tentu, hidup kita menjadi gelap dan kelabu. Dengan iman, kita akan selamat dari godaan syahwat. Baik syahwat mulut, perut ataupun kemaluan. Tapi hanya dengan iman, kita tidak akan memiliki ketahanan diri yang kuat untuk menghadapi badai syubhat yang datangnya bergelombang silih berganti. Berapa banyak dari kaum muslimin yang terpedaya dengan propaganda JIL (Jaringan Islam Liberal). Dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi pengikut aliran sesat. Yang mudah mengkafirkan kelompok lain dan pondasi agama dibangun atas dasar mengikuti keinginan hawa nafsu semata. Untuk itu, apapun profesi kita. Baik sebagai pejabat Negara, berkiprah di parlemen, pengurus partai politik, pengusaha, wirausaha, pedagang, presenter di televisi, bekerja di dinas pemerintahan, staf pengajar, pelajar, petani, juru kebun dan yang lainnya. Kita berkewajiban untuk selalu memperluas ilmu pengetahuan kita. Baik dengan cara menerima transfer ilmu dari orang lain maupun dengan jalan tarbiyah zatiyah (secara mandiri) dengan membaca buku dan seterusnya. Hal ini kita lakukan demi membentengi diri kita dan orang-orang dekat kita dari terpaan syubhat yang menghancurkan masa depan kita di akherat. Saudaraku.. Dalam meretasi hidup, tanpa berbekal kesabaran maka kita akan gagal dan terpuruk. Tak berlebihan jika kita katakan bahwa keberhasilan dan kesuksesan kita dalam menjalani hidup, separuhnya ditentukan oleh kesabaran. Artinya orang yang miskin kesabaran, maka masa depannya di dunia akan suram dan di akherat sana ia dapati gelap gulita. “Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Al Mulk: 2. Sabar merupakan akhlak terpuji yang menjadi ciri khas seorang mukmin dan paling banyak disebut dalam al Qur’an. Imam al-Ghazali berkata, “Allah swt menyebut kata sabar di dalam al Qur’an lebih dari 70 tempat.” Ibnul Qayyim pernah mengutip perkataan Imam Ahmad, “Sabar di dalam al Qur’an terdapat di sekitar 90 tempat.” Sabar kita butuhkan dalam setiap nafas kehidupan kita. Terlebih bagi kita yang sedang mendaki puncak ubudiyah, memerlukan nafas panjang dari kesabaran. Agar kita tidak terengah-engah, mengalami kelelahan jiwa dan mundur dari perjuangan mengukir prestasi di hadapan-Nya. Agar kita senantiasa istiqamah mengukir amal-amal baik dan pahatan amal ketaatan, kita dituntut memakai pakaian kesabaran. Saat kita dirundung duka, dengan kepergian orang-orang tercinta dan kekasih hati, kesabaran mutlak harus kita miliki. Agar kita tak terombang-ambing dalam kesedihan. Agar kita rela dan ridha dengan garis takdir-Nya. Demikian pula sabar menjadi pembeda, kala musibah dan bencana melanda serta terjadi fitnah dalam agama dan hal-hal yang tidak kita harapkan. Mengekang nafsu dan syahwat, agar tak menyeret kita pada perbuatan dosa dan tergelincir dalam lubang maksiat, kita pun mesti menghiasi diri kita dengan kesabaran. Saudaraku.. Kita kerap mendengar kata muruah dari lisan orang Melayu. Muruah berarti; kehormatan diri, harga diri dan nama baik. Orang yang miskin muruah, maksudnya; orang yang tak memiliki kehormatan diri, tanpa harga diri dan orang yang nama baiknya tercemar dan tercoreng karena perilaku dan perbuatannya sendiri. Muruah melekat pada diri kita, jika kita tak menzalimi hak-hak orang lain. Berpihak kepada kepentingan rakyat jelata, saat berseberangan dengan penguasa yang zalim. Membela nasib si miskin, saat bersengketa dengan orang kaya yang tamak. Menolong mereka yang lemah, saat menghadapi orang kuat yang sombong. Juga saat kita sebagai kepala keluarga, bisa menjadi teladan bagi istri dan anak-anak kita. Sebagai pendidik, kita mampu memberikan keteladanan hidup bagi pendidik lain dan murid-murid kita. Baik di sekolah maupun di lingkungan kita. Dan seterusnya. Intinya, kepribadian yang ringkih dan budi pekerti yang tercela, jika melekat pada diri kita. Siapapun kita. Apapun jabatan dan profesi kita. Di mana pun kita berada. Maka hal itu dapat merusak nama baik dan melenyapkan kewibawaan serta kemuliaan kita. Memiliki akhlak dan kepribadian yang dicintai Allah dan rasul-Nya serta menjadi simat orang-orang mukmin, akan mendekatkan kita pada izzah dan kemuliaan sejati. “Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, bagi rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” Al Munafiquun: 8. Saudaraku.. Miskin hati. Inilah model kemiskinan yang sangat menyengsarakan dan mendera kita. Membuat galau hati kita. Menjadikan luka menganga di jiwa kita. Kebahagiaan hidup tak pernah kita kecap. Senyuman indah dan keceriaan hati melayang dan punah. Karena kita tak akan pernah puas dengan pemberian-Nya. Tak pernah ridha dengan takdir-Nya. Kekayaan harta yang dimiliki. Apatah lagi ketiadaan harta. Memiliki pendamping hidup, apalagi yang masih hidupnya menyendiri. Sehat yang menyapa tubuh, apalagi sakit yang mendera. Dalam keadaan lapang apalagi sempit. Jabatan yang disandang, apatah lagi rakyat jelata. Hidup di negeri yang aman apatah lagi mukim di tempat konflik. Dan seterusnya. Apapun keadaannya. Jika kita miskin hati. Maka kita tak akan pernah senang melewati hari-hari kita. Lisan tak pernah berhenti dari mengingkari kurnia-Nya. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Dzar ra, “Sesungguhnya hakikat kekayaan adalah kekayaan hati. Dan kemiskinan yang hakiki adalah miskin hati.” H.R; Ibnu Hibban. Saudaraku.. Kita boleh saja miskin harta, rupa, jabatan, sandang, pangan, papan, kesehatan dan yang senada dengan itu. Tapi jangan sampai kita miskin iman, ilmu pengetahuan, kesabaran, muruah dan hati. Ya Rabb, jadikanlah kami orang yang memilki kekayaan yang sejati. Kaya iman, ilmu, kesabaran, muruah dan kaya hati. Aamiin ya Mujibas Saailiin.

Senin, 06 Mei 2013

YA RABBI KU BERMUNAJAT KEPADA-MU

Saudaraku… Banyak persoalan hidup yang tak mampu kita selesaikan dengan perahan tenaga dan kucuran keringat. Tubuh yang kuat dan kekar, bukan parameter seseorang kuat dalam menghadapi berbagai problema kehidupan. Banyak persoalan hidup yang dapat terselesaikan hanya dengan menengadahkan kedua tangan ke langit, bermunajat kepada Yang Maha Rahman. Jika ada beban berat yang menggelayut di tubuh kita, jangan kita adukan persoalan itu kepada makhluk-Nya yang lemah seperti kita. Karena terkadang hal itu justru semakin memberatkan beban yang kita tanggung. Tapi adukan semua persoalan kita kepada Allah Swt Yang Maha Kuat, niscaya beban berat yang kita rasa menjadi ringan. Dan Dia bentangkan di hadapan kita jalan keluar dan hamparkan solusi bagi permasahan hidup yang mendera kita. Ya Rabbi.. Engkau telah menciptakan kami (dengan sebaik-baik bentuk), tapi kami selalu melupakan-Mu. Ya Rabbi.. Engkau telah kucurkan rezki kepada kami, tapi hati kami kering dari mensyukuri nikmat-Mu. Ya Rabbi.. Engkau menguji kami dengan cobaan-Mu, tapi kami banyak berkeluh kesah kepada-Mu. Ya Rabbi.. Engkau telah menangguhkan ajal kami, tapi kami lambat dalam mengukir amalan untuk-Mu. Ya Rabbi.. Engkau bentangkan jalan-jalan kebaikan di hadapan kami, tapi kami luput dari memperbanyak kebaikan. Ya Rabbi.. Engkau hadirkan kerinduan terhadap surga di hati kami, tapi kami malas mengetuk pintu-pintu surga-Mu. Ya Rabbi.. Engkau bersitkan siksa neraka dalam jiwa kami, tapi kami justru mengayunkan langkah menuju ke sana. Ya Rabbi.. Sekiranya Engkau menyiksa kami dengan neraka-Mu, maka sesungguhnya kami layak menerimanya dan tidaklah kami termasuk orang-orang yang teraniaya karenanya. Ya Rabbi.. Dan sekiranya Engkau masukkan kami ke dalam surga-Mu, maka Engkau lebih Mengetahui hamba-hamba-Mu yang berhak memasukinya. Dan jikalau bukan karena rahmat-Mu, tentulah kami tak layak menjadi ahlinya. (inspirasi, “hakadza ‘alllamatnil hayat” karya Syekh Mustafa Siba’i rahimahullah). Riyadh, 02 Mei 2012 M. Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far

HIDUP ITU MEMILIH

Hidup di dunia ini dengan berbagai aspeknya selalu menghadirkan pilihan-pilhan. Dan semua kita yang masih hidup harus dan pasti memilih diantara pilihan-pilihan yang tersedia. Tidak mungkin tidak. Perbedaannya mungkin hanya apakah sebuah pilihan diambil dengan penuh kesadaran, kesengajaan, pemahaman, pertimbangan, perhitungan, dan pertanggungan jawab, ataukah tidak. Bahkan termasuk sikap tidak memilih itu sendiri sebenarnya juga sebuah pilihan. Dan kualitas diri seseorang itu ditentukan antara lain oleh sikap dan caranya dalam menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya, serta kemampuannya dalam mempertanggung jawabkan setiap pilihan yang diambilnya. Karena setiap pilihan dalam hidup pasti ada konsekuensi dan resikonya, maka biasakanlah diri agar selalu memilih secara sadar, sengaja dan bertanggung jawab. Lebih-lebih lagi karena setiap pilihan juga pasti akan ditanya tentangnya dan diminta pertanggungan jawabnya. Maka janganlah pernah sekali-kali tidak peduli dalam memilih apa saja dan siapa saja. Oleh karena itu, kesiapan yang baik dalam memenuhi konskuensi setiap pilihan, dan kekuatan yang memadai dalam mengantisipasi resiko-resikonya , tak jarang justru jauh lebih penting daripada bentuk dan jenis pilihannya itu sendiri. Maka orang lemah adalah orang yang memilih dengan tanpa mengantisipasi konsekuensi dan resiko pilihannya. Dan lebih lemah lagi, adalah yang bahkan tidak memikirkan dan memperhitungkannya sama sekali. Lalu, disamping pertimbangan akan resiko dan konskuensi, nilai sebuah pilihan utamanya juga sangat ditentukan oleh dasar dan standar yang dipakai oleh setiap pemilih dalam menentukan pilihan. Sehingga kontras dan ekstremnya perbedaan pilihan atau penilaian terhadapnya antar berbagai pihak, seringkali karena perbedaan dasar dan standar yang dipakai oleh masing-masing. Maka agar adil dan tidak salah, sebelum menilai pilihan seseorang atau suatu kelompok dalam hal-hal opsional tertentu, sangatlah penting sekali bila kita terlebih dulu mengetahui dan memahami dasar serta standar yang dipakainya secara baik dan proporsional. Dan bila dilihat dari sifat, dasar dan standar yang dipakai, maka akan didapati bahwa, ada dua jenis atau kategori pilihan. Yaitu jenis dan kategiri pilihan dengan dasar dan standar idealistis, serta jenis dan kategiri pilihan dengan dasar pertimbangan realistis. Dan sikap terbaik dan terideal adalah yang selalu berupaya menentukan pilihan dengan cara memadukan antar keduanya. Namun masalahnya, akan selalu ada saja sikap-sikap ekstrem dan kontradiktif. Dimana ada yang terlalu idealistis sampai tidak mau mengakui adanya pilihan dengan dasar pertimbangan realstis. Sementara yang lain realistis secara berlebihan, sehingga tampak atau minimal terkesan abai terhadap kaedah-kaedah dasar dan prinsip-prinsip standar idealstis. Maka akan sangat kontras sekali hasilnya, kala pilihan dengan dasar pertimbangan realistis misalnya, dinilai dengan standar dan parameter idealistis murni. Sebagaimana begitu pula sebaliknya, pilihan-pilihan dengan standar dan parameter idealistis, tidak akan bisa dan mampu dipahami dengan baik dan benar serta proporsional oleh yang hanya berorientasi dan berpola pikir realistis semata. Selanjutnya, merupakan salah satu realita dan fakta yang tak terpungkiri bahwa, mayoritas pilihan dalam berbagai aspek dan masalah kehidupan saat ini adalah merupakan pilihan-pilihan realistis. Karena memang hampir-hampir tidak ada pilihan di bidang apapun yang dasar dan landasannya idealistis murni. Maka umumnya sangat dilematis sekaligus controversial sekali. Memang kaidah normatif yang mengikat setiap muslim dan muslimah dalam hidup ini bahwa, dalam menentukan atau menilai setiap pilihan apapun, semestinya ia selalu mengacu pada standar dan parameter idealistis, untuk memperoleh pilihan yang ideal pula. Namun betapa sulitnya mendapatkan pilihan ideal itu di dalam realita kehidupan seperti sekarang ini, dimana mayoritas aspeknya telah demikian jauh atau terjauhkan dari standar komitmen, kontrol dan arahan syar’i. Sehingga hampir-hampir saja kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak ada satupun diantaranya yang ideal. Sementara itu kita tidak bisa atau tidak mungkin atau tidak dibenarkan untuk tidak memilih! Dan itu dalam hampir semua aspek kehidupan; dalam aspek sosial, pendidikan, seni budaya, ekonomi, pekerjaan, media, berbagai sarana, hukum, politik, dan lain-lain. Nah dalam realita dan kondisi seperti itu, standar dan parameter yang harus dipakai dan diterapkan dalam menentukan suatu pilihan tertentu atau dalam menilainya haruslah standar realistis, dan bukan standar idealistis. Karena memang pilihan manapun yang diambil oleh siapapun tentulah merupakan pilihan realistis pula, dan tidak mungkin ada pilihan yang idealistis. Sebagai contoh misalnya dalam bidang dakwah Islam. Jika penerapan prinsip tadarruj (pentahapan) dalam perjuangan dakwah Islam diibaratkan naik tangga, dan puncak idealita islami murni itu ada di tangga 10 misalnya, sementara marhalah (tahapan) dakwah saat ini baru sampai tangga 3 misalnya, maka pilihan-pilihan dakwah di marhalah ini haruslah ditentukan dan dinilai berdasarkan standar dan parameter tangga 3 dan bukan tangga 5 atau tangga 7 atau apalagi tangga 10! Dan kaidah penting dalam melakukan muwazanat (perbandingan dan pertimbangan) diantara pilihan-pilihan realistis adalah sebagai berikut: Selama diantara pilihan-pilihan realistis itu masih bisa dibedakan, maka secara syar’i seorang muslim atau muslimah tetap wajib memilih diantara pilihan-pilihan yang ada itu, dan tidak dibenarkan bersikap netral atau abstain dengan tidak menentukan pilihan tertentu di antara pilihan-pilihan yang tersedia. Dan yang dimaksud dengan “masih bisa dibedakan” itu yakni selama masih bisa dibedakan dalam hal baik-buruknya dan maslahat-madharatnya, atau masih bisa dibedakan dalam hal tingkat kebaikan dan kemaslahatannya ataupun tingkat keburukan dan kemadharatannya! Saat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang semuanya buruk dan madharat, seperti kebanyakan pilihan yang ada di hadapan kita selama ini, maka secara syar’I kita wajib memilih yang tingkat keburukan dan kemadharatannya lebih atau paling ringan dan paling rendah. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa mencegah pilihan yang lebih atau paling buruk dan paling madharat. Jadi babnya disini adalah demi melakukan kewajiban inkarul munkaril akbar (pengingkaran atau pencegahan terhadap kemungkaran yang lebih atau paling besar), yang hanya mungkin dilakuakan dengan terpaksa memilih, berpihak dan mendukung al-munkar al-ashghar (kemungkaran yang lebih atau paling kecil), sesuai kaidah ikhtiyar ahwanisy-syarrain atau akhaffidh-dhararain (memilih atau menolerir keburukan/kemadharatan yang lebih ringan dan lebih kecil diantara dua pilihan buruk/madharatyang ada) di dalam ushul fiqih. Dan terakhir, yang juga sangat penting disadari dan diingat bahwa, sikap netral atau abstain, yang biasa diistilahkan golput (golongan putih?) dalam menghadapi pilihan-pilihan realistis yang kesemuanya buruk dan madharat, namun masih bisa dibedakan tingkat keburukan dan kemadharatannya, pada hakekatnya merupakan sikap “memihak” dan “memenangkan” pilihan yang lebih atau paling buruk. Namun hal itu sering tidak disadari oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ilaa aqwamith-thariiq, wal Haadii ilaa sawaa-issabiil. Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

Minggu, 05 Mei 2013

MENGUMPULKAN PUNDI-PUNDI KEBAIKAN

Salah satu kiat mengetuk pintu surga Allah Swt yang menjadi dambaan kita semua adalah menghimpun pundi-pundi kebaikan dan amal shalih. Karena ia merupakan bukti kelurusan dan kedalaman iman kita. Tiada iman tanpa amal shalih. Dan amal shalih tanpa iman adalah hampa bagaikan fatamorgana. Sia-sia tak berbekas di akherat sana. Untuk itu, jika kita cermati ayat-ayat dalam al Qur’an, maka kita dapati antara iman dan amal shalih selalu disebut beriringan. Karena keduanya telah menyatu, tak mungkin dipisah-pisahkan antara yang satu dengan lainnya. Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” Al Baqarah: 82. Banyaknya ukiran amal-amal shalih merupakan bukti kelurusan dan kedalaman iman kita. Sebaliknya keringnya amal dan kebaikan yang kita perbuat merupakan lambang rapuh dan ringkihnya iman dalam kalbu kita. Saudaraku.. Ali bin Abu Thalib ra pernah menasihati kita, “Kebaikan tak diraih dengan memperbanyak harta dan anak-anak. Tetapi kebaikan terhimpun dengan memperbanyak amal dan memperbesar mimpi serta bergegas bersimpuh di hadapan Rabb-mu. Jika banyak kebaikan yang terukir, maka pujilah Tuhanmu. Dan jika sebaliknya, maka beristighfarlah kepada-Nya. Tiada kebaikan di dunia, melainkan terdapat pada salah satu dari dua orang: Seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia sadar dan segera mengiringi keteledorannya dengan taubat. Atau seseorang yang bergegas melakukan kebaikan.” (Mawa’izh as shahabah, karya; Shalih Ahmad Asy Syami). Saudaraku… Secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa pundi-pundi kebaikan dan amal shalih (dari nasihat Ali bin Abu Thalib ra) dapat kita himpun dengan cara berikut: • Mengoptimalkan harta dan anak keturunan sebagai peluang dan modal amal-amal shalih kita. • Memperbesar mimpi. • Menjaga keharmonisan hubungan kita dengan sang Maha Pencipta. • Evaluasi diri setiap hari. • Bertaubat dari dosa. • Memaksimalkan peluang kebaikan. Saudaraku.. Tidak sedikit manusia yang mengukur suatu kemuliaan, kehormatan dan kedudukan di masyarakat diraih dengan harta dan anak keturunan. Artinya semakin banyak harta yang kita punya didukung dengan anak-anak yang sukses dan berprestasi dari sisi duniawi. Maka kedudukannya di masyarakat semakin terhormat dan mulia. Padahal sejatinya harta dan anak-anak, merupakan perhiasan dunia yang menipu dan menyilaukan pemiliknya. Selama harta tak dibelanjakan dan diinvestasikan di jalan yang Allah ridhai. Jikalau anak-anak tak dididik dan diarahkan untuk menjadi abdi Rabb-nya dan menjadi generasi penerus bagi perjuangan orang tuanya. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” Al Kahfi: 46. Saudaraku.. Memperbesar mimpi (baca; cita-cita) merupakan batu loncatan untuk mengukir prestasi di hadapan-Nya, inspirator untuk mendaki puncak ubudiyah. Untuk itu Nabi saw memberikan arahan kepada umatnya, jika kita bercita-cita meraih surga agar meraih tingkatan surga tertinggi. Yaitu; surga Firdaus. “Sesungguhnya Firdaus itulah tempat (surga) terbaik dan tertinggi derajatnya. Di atas Firdaus terdapat Arsy Allah dan dari situ mengalir sungai-sungai surga. ” H.R; Bukhari. “Surga itu memiliki seratus tingkatan, dan setiap tingkatan jaraknya antara langit dan bumi, yang paling tinggi adalah surga firdaus …… Jika kalian meminta kepada Allah (surga), maka mintalah kepada-Nya surga Firdaus.” H.R; Ibnu Majah. Di dalam shahih Muslim disebutkan bahwa ketika Nabi saw mendengar cita-cita salah seorang sahabatnya yang bernama Rabi’ah bin Kaab al Aslami. Di mana ia bercita-cita menjadi tetangga beliau di surga, beliau berpesan, “Bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu dengan memperbanyak sujud.” Cita-cita luhur yang tak diimbangi dengan kesungguhan dalam meraihnya adalah angan-angan kosong dan lamunan semu. Untuk itu Imam Nawawi meletakkan hadits ini dalam kitab Riyadhus shalihin pada bab ‘mujahadah’ (bersungguh-sungguh). Karena untuk meraih surga dan bahkan menjadi tetangga Nabi saw di surga bukanlah perkara yang mudah dan ringan. Membutuhkan kesungguhan puncak. Salah satu cara yang beliau tuntunkan adalah memperbanyak sujud. Artinya memperbanyak ibadah kepada Allah Swt. Saudaraku.. Menjaga keharmonisan hubungan kita dengan sang Maha Pencipta, dapat kita tempuh dengan jalan mengukir amal-amal rahasia. Yang hanya diketahui oleh kita dan kekasih sejati kita. Bangun di tengah malam untuk shalat tahajjud dan bermunajat serta berkhalwat dengan-Nya. Di saat manusia lain sedang asyik menikmati mimpi-mimpi indahnya. Mengosongkan perut dengan puasa sunnah, kala orang lain kekenyangan. Menikmati pesan-pesan Rabbani dalam alunan ayat-ayat-Nya yang suci, kala orang lain terbuai dengan alunan musik dan senandung lagu yang melalaikan, sinetron yang mempertontonkan aurat dan seterusnya. Tanpa amal-amal rahasia, mustahil kita meraih kedekatan dan cinta-Nya. Saudaraku.. Biasakanlah sebelum tidur di malam hari, kita mengevaluasi diri atau bermuhasabah. Jadi kita bermuhasabah tidak hanya kita lakukan saat pergantian tahun. Atau sewaktu ada acara mabit bersama dan qiyamullail. Tapi kita jadikan muhasabah sebagai penutup hari-hari kita. Bukankah para pedagang biasa menghitung keuntungan atau barangkali kerugiannya setiap hari? Jika di hari-hari yang telah lewat, banyak ukiran amal shalih dan kebaikan yang kita perbuat, maka biasakan lidah kita mengucapkan ‘al hamdulillah’. Memuji kebaikan-Nya atas kita. Karena tiada kebaikan yang kita perbuat dan tiada amal shalih yang mampu kita lakukan, melainkan dengan pertolongan dan taufiq dari-Nya. Maka kita kembalikan segala pujian kepada-Nya. Namun, jika sebaliknya. Ada defisit amal shalih pada hari-hari yang telah kita lewati. Atau banyak peluang kebaikan yang terbuang percuma. Maka kita akui keteledoran dan kekurangan kita dengan ucapan ‘astaghfirullah’. Agar kita terbiasa mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kekeliruan kita. Terlebih kepada Zat yang selalu melapangkan kebaikan dan menghamparkan kemudahan kepada kita. Saudaraku.. Bukanlah aib kita melakukan kekeliruan, kekhilafan, kesalahan dan dosa. Karena kita adalah manusia. Summina insanan linisyanina, dinamakan manusia karena kealpaan kita. Artinya lupa dan salah memang tabiat dasar manusia. Tapi yang menjadi aib adalah apabila kita lupa, salah, khilaf, keliru, dan tergelincir dalam perbuatan dosa dan maksiat, tapi kita tak mengakui kesalahan kita. Kita tak sadar dengan kekeliruan kita. Dan yang lebih berbahaya adalah pada saat kita justru menikmati dosa dan maksiat yang kita lakukan. Na’udzu billah min dzalik. Jika demikian, berarti hati kita telah mati. Jiwa kita telah gelap dan hitam dengan maksiat. Hati seorang mukmin yang sehat, adalah hati yang akan tersengat dan terbakar jika anggota tubuh lain melakukan dosa dan maksiat. Sehingga lisannya segera beristighfar, matanya berlinang, hatinya bergetar karena takut siksa-Nya dan anggota tubuh yang lain melakukan kebaikan dan pahatan amal shalih. Taubat, idealnya menjadi profesi hidup kita. Di mana hari-hari kita, dihiasi taubat dan istighfar kepada-Nya. Kita beristighfar setelah melakukan ketaatan. Beristighfar kala meraih kesuksesan. Dan sudah barang tentu beristighfar setelah melakukan dosa dann maksiat. Saudaraku.. Hidup di dunia ibarat perlombaan lari bagi kita. Siapa yang menyiapkan diri dengan baik. Dan membiasakan diri dengan latihan-latihan yang baik dan rutin. Ditambah dengan kesungguhan maksimal, insyaallah kita akan menjadi juara dan pemenang. Terlebih kita sekarang sedang berlomba lari demi meraih kemenangan sejati. Yaitu keridhaan Allah dan surga-Nya. Para sahabat telah mengerahkan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki. Raga, harta, waktu, potensi dan bahkan jiwa mereka korbankan, demi meraih satu tiket di surga. Bagaimana dengan kita? Wallahu a’lam bishawab.

Sabtu, 04 Mei 2013

Tadabur Alam at to Cibodas

Muhibbah Ilmiah 23

”DEKLARASI” MENYIKAPI KHILAFIYAH

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ’ala Sayyidina Rasulillah, wa ’ala alihi, wa shahbihi, wa man waalaah, wa laa haula wa laa quwwata illa billah. Amma ba’du: Dengan ini kami menyerukan dan mengajak seluruh muslimin dimanapun berada, untuk bersepakat dalam menyikapi adanya perbedaan pendapat dan madzhab diantara para imam dan ulama Ahlussunnah Waljamaah, dalam masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah, dengan butir-butir penyikapan dan kesepakatan sebagai berikut: Pertama, kita semua sepakat menerima, mengakui dan mentolerir adanya perbedaan pendapat para imam dan ulama itu, sebagai hal yang normal dan wajar, karena ia merupakan buah alami dan konsekuensi logis dari ijtihad mereka. Serta sepakat menyikapi seluruh madzhab ulama Ahlussaunnah Waljamaah sebagai pilihan-pilihan yang secara umum ditolerir bagi siapapun untuk memilih madzhab apapun diantaranya. Kedua, kita sepakat untuk selalu berusaha melakukan pemilihan diantara pendapat-pendapat dan madzhab-madzhab yang mu’tabar (diakui) itu secara bertanggung jawab, sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing. Dimana bagi ulama mujtahid, andai ada, pilihan harus dilakukan berdasarkan hasil ijtihadnya. Sedangkan bagi kalangan penuntut ilmu syar’i, yang telah mampu memahami dalil dan mendalami istidlal para ulama, pilihan didapat melalui jalan ber-ittiba’, yakni dengan mengikuti madzhab imam mujtahid disertai pemahaman akan dalilnya, dan atau dengan melakukan pengkajian serta perbandingan untuk menentukan pendapat yang rajih (kuat) menurutnya. Adapun bagi kaum muslimin kebanyakan yang awam sama sekali, maka batas kemampuan mereka hanyalah ber-taqlid, yakni mengikuti ulama rujukan terpercaya yang diakui kapasitas dan kredibilitasnya, meskipun tanpa harus tahu dalilnya dan paham istidlal-nya. Yang penting dalam ber-taqlid ini, minimal ada dua syarat utamanya, yaitu: bahwa ulama yang ditaqlidi dan diikuti adalah ulama yang tepat, dan bahwa taqlid dilakukan secara tulus dan ikhlas, yakni tidak dalam rangka memperturutkan hawa nafsu, misalnya dengan sekedar tatabbu’ur-rukhash (nyari-nyari yang serba ringan dan nyaman saja). Ketiga, kita sepakat melihat dan menyikapi pendapat atau madzhab yang akhirnya dipilih dan diikuti oleh masing-masing diantara kita, sesuai cara dan pola yang telah disebutkan diatas, sebagai sebuah pilihan dan bukan sebagai sebuah keyakinan! Oleh karenanya, kita sepakat untuk tidak menunjukkan sikap mutlak-mutlakan terhadap pendapat yang kita pilih, begitu pula terhadap pendapat serta madzhab yang lain. Juga tidak menyikapi masalah khilafiyah ijtihadiyah ini dengan pola pendekatan haq-batil, atau sunnah-bid’ah, atau lurus-sesat, atau wala’ (cinta) dan bara’ (benci)! Namun selalu mengedepankan dan menonjolkan sikap toleransi sesuai tuntutan kebutuhan dan kemaslahatan, di bawah naungan prinsip ukhuwah islamiyah, dan berlandaskan semangat persatuan dan penyatuan ummat. Keempat, kita semua sepakat untuk tetap dan senantiasa mengutamakan, mengedepankan dan memprioritaskan masalah-masalah ushul (prinsip) yang telah disepakati atas masalah-masalah furu’ (non prinsip) yang diperselisihkan. Atau dengan kata lain, kita wajib selalu mengutamakan dan mendahulukan masalah-masalah ijma’ atas masalah-masalah khilafiyah. Sehingga jangan sampai perhatian dan kesibukan kita yang besar terhadap masalah-masalah khilafiyah, mengalahkan dan mengorbankan perhatian serta kesibukan kita terhadap masalah-masalah pokok yang disepakati. Kelima, kita sepakat bahwa, untuk praktek pribadi, dan dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat personal individual, masing-masing kita berhak mengikuti dan memgamalkan pendapat atau madzhab yang rajih (kuat) menurut pilihannya. Meskipun sangat afdhal pula jika ia memilih sikap yang lebih berhati-hati (ihtiyath) dalam rangka menghindari ikhtilaf (perbedaan pendapat), sesuai dengan kaidah ”al-khuruj minal khilaf mustahabb” (keluar dan lepas dari wilayah khilafiyah adalah sangat dianjurkan). Sementara itu terhadap orang lain dan atau dalam hal-hal khilafiyah yang terkait dengan kemaslahatan bersama, kita semua sepakat untuk mengambil sikap melonggarkan dan bertoleransi (tausi’ah & tasamuh). Atau dengan kata lain, jika kaidah dan sikap dasar dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat personal individual, adalah melaksanakan yang rajih menurut pilihan kita masing-masing. Maka kaidah dan sikap dasar dalam masalah-masalah khilafiyah yang bersifat kebersamaan, kejamaahan, kemasyarakatan, dan keummatan, adalah dengan mengedepankan sikap toleransi dan bahkan kompromi. Termasuk sampai pada tingkat kesiapan untuk mengikuti dan melaksanakan pendapat atau madzhab lain yang menurut kita marjuh (lemah) sekalipun, jika memang ada kemaslahatan untuk itu. Keenam, kita semua sepakat untuk menjadikan masalah-masalah ushul (prinsip) yang disepakati, yakni masalah-masalah ijma’ – dan bukan masalah-masalah furu’ ijtihadiyah khilafiyah – sebagai standar komitmen dan ukuran keistiqamahan seorang muslim. Jadi tidak dibenarkan misalnya kita menilai seseorang itu istiqamah atau tidak dan komit atau tidak, berdasarkan standar masalah-masalah khilafiyah. Sehingga misalnya akan dinilai istiqamah dan komit jika ia mengikuti madzhab atau pendapat tertentu, sementara akan dinilai tidak istiqamah dan tidak komit jika menganut madzhab atau pendapat yang lain. Bahkan yang benar adalah bahwa, siapapun yang menjalankan ajaran Islam sesuai standar batasan prinsip, maka ia adalah orang Islam yang istiqamah dan komit, apapun madzhab atau pendapat di antara madzhab-madzhab atau pendapat-pendapat ulama mu’tabar, yang diikuti dan dianutnya. Ketujuh, kita harus sepakat untuk senantiasa menjaga agar ikhtilaf (perbedaan) diantara kita dalam masalah-masalah furu’ ijtihadiyah, tetap berada di wilayah wacana pemikiran dan wawasan keilmuan serta pemahaman saja, dan tidak masuk atau berpindah ke wilayah hati. Agar perbedaan kita itu tetap sebagai perbedaan keragaman (ikhtilafut-tanawwu’) yang ditolerir dan bahkan indah, dan tidak berubah menjadi perselisihan perpecahan (ikhtilafut-tafarruq) yang tercela, dan yang akan merusak ukhuwah serta melemahkan sikap saling tsiqoh (percaya) di antara sesama kaum mukminin. Kedelapan, kita semua sepakat untuk menyikapi orang lain, kelompok lain atau penganut nadzhab lain, dalam konteks khilafiyah dimaksud, sesuai dan berdasarkan kaidah penyikapan berikut ini: Perlakukan dan sikapilah orang lain, kelompok lain dan penganut madzhab lain sebagaimana engkau, kelompok dan madzhabmu ingin diperlakukan dan disikapi! Serta janganlah memperlakukan dan menyikapi orang lain, kelompok lain dan pengikut madzhab lain dengan perlakuan dan penyikapan yang tidak engkau inginkan dan tidak engkau sukai untuk dirimu, kelompokmu atau madzhabmu! Dan ini tidak lain adalah salah satu bentuk penerapan terhadap makna dan kandungan hadits terkenal (yang artinya): “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kamu sampai ia menyukai untuk saudaranya apa-apa yang ia sukai untuk dirinya sendiri” (HR. Muttafaq ‘alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu). Kesembilan, kita semua harus sepakat untuk menilai, menyikapi dan memperlakukan praktik penganut, pengikut atau pemilih madzhab lain, berdasarkan sudut pandang madzhab yang bersangkutan, dan bukan berdasarkan sudut pandang madzhab kita, yang tentu saja berbeda dan bahkan bertentangan dengannya. Karena hanya dengan prinsip dan cara pandang seperti inilah, kita bisa memiliki sikap toleransi dan bahkan kompromi dalam masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah, seperti yang telah disebutkan diatas. Dan sekaligus hanya prinsip dan cara pandang ini pulalah yang bisa menjelaskan dan menanfsirkan sikap toleransi dan kompromi para ulama salaf dalam hal-hal khilafiyah ijtihadiyah, yang bahkan sampai pada tingkat kesiapan mereka – dalam kondisi-kondisi tertentu – untuk “mengalah” dan mengikuti pendapat atau madzhab imam mujtahid lain, seperti dalam banyak contoh dan teladan dari sirah mereka. Akhirnya, marilah kita semua berdoa dengan tulus, ikhlas, khusyu’, tawadhu’ dan sungguh-sungguh : Allaahumma Rabba Jibraa-iil wa Miikaa-iil wa Israafiil, Faathiras-samaawaati wal-ardh, ‘Aalimal ghaibi wasy-syahaadah, Anta tahkumu baina ‘ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun. Ihdinaa lima-khtulifa fiihi minal-haqqi bi-idznik, innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraathim-mustaqiim! (Ya Allah, Rabb Jibrail, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui alam ghaib dan alam nyata, Engkau-lah Yang memutuskan diantara hamba-hamba-Mu, dalam (hal-hal) yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami pada kebenaran dalam (hal-hal) yang diperselisihkan itu, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau-lah Yang memberi petunjuk bagi orang yang Engkau kehendaki, kepada jalan yang lurus!) Subhaanakal-Laahumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik! Wallahul Muwaffiq ilaa aqwamith-thariiq, wa Huwal Haadii ilaa sawaa-issabiil. Wa aakhiru da’waanaa anil-hamdu lillahi Rabbil-’aalamiin. Wa shallallahu wa sallama ’alaa sayyidina Muhammad wa ’alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin. Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

Kebenaran, Kebaikan dan Peluang

Kebenaran dan kebaikan itu dari dan milik Allah. Maka setiap pembela kebenaran dan pegiat kebaikan berarti bekerja untuk Allah. Dan, yakinlah seyakin-yakinnya bahwa, Dia tidak akan mengabaikan siapapun yang bekerja untuk dan di jalan-Nya. Sebagaimana Allah telah menyediakan semua sarana hidup bagi setiap makhluk ciptaan-Nya, pastilah Dia juga telah mencukupkan seluruh sarana eksis dan survive bagi kebenaran dan kebaikan yang diturunkan-Nya. Sehingga dalam kaedah kebenaran dan kebaikan, jika kejujuran niat dan tekad plus kesungguhan ikhtiar dan usaha, apapun bentuknya dan seberapapun kadarnya, telah tersedia, berarti peluang dan pendukungpun telah hadir bersamanya. Namun dalam kaedah sunnatullah, disamping peluang dan pendukung, bagi kebenaran dan kebaikan juga pasti ada penghalang dan perintang, yang harus dikenali dan dilampaui. Pada hakekatnya, kebenaran dan kebaikan itu memiliki inner power (kekuatan internal yang ada di dalamnya dan bersamanya), yang dengannya siap menembus relung hati siapapun dan juga menerobos komunitas apapun. Sehingga ketika hal itu tidak terjadi, biasanya karena faktor-faktor penghalang dan perintang yang menghadang sampai berlapis-lapis. Maka dalam kaedah fiqih perubahan diri, masyarakat dan kehidupan, menuju kebenaran dan kebaikan, salah satu prioritas utama itu adalah mengenali dengan baik faktor-faktor penghalang/perintang, lalu berupaya keras untuk menghilangkannya. Namun perlu diingat dan disadari benar bahwa, faktor-faktor penghalang atau perintang kebenaran dan kebaikan itu terdiri dari dua kategori: internal, yang berasal dan bersumber dari dalam, dan eksternal, yang bersumber dan berasal dari pihak luar. Dan penghalang atau perintang kategori pertama jauh lebih berat dan lebih prioritas, daripada kategori kedua. Oleh karenanya, pejuang dan pahlawan sejati itu lebih diukur oleh apa dan berapa rintangan hidup yang telah dilampauinya, bukan oleh apa dan berapa kebaikan yang telah dibuatnya. Wassalam. Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

MENSIKAPI KETERKEJUTAN YANG MENYAPA KITA

Saudaraku.. Dalam hidup, pasti kita pernah mengalami berbagai warna keterkejutan, di luar dugaan dan perkiraan kita. Baik dalam skala pribadi maupun jama’ah. Yang demikian itu, jika tidak kita sikapi dengan baik, terkadang membuat kita terpukul, hilang harapan, patah semangat, putus asa dan shok berat serta trauma berkepanjangan. Tapi kita sebagai insan beriman, sudah sepantasnya melihat berbagai persoalan yang mendera kita dan keterkejutan yang menyapa kita dengan kaca mata iman atau bathin. Sehingga kita dapat mendulang hikmah, memetik buah pelajaran dan terjauhkan dari putus asa dari rahmat Allah . Karena berputus asa dari rahmat Allah merupakan mental yang diwariskan orang-orang kafir kepada kita. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” Yusuf: 87. Saudaraku.. Bencana alam yang datang bertubi-tubi silih berganti tak pernah henti menyapa negeri kita. Kemerosotan moral yang dialami oleh masyarakat kita, terlebih generasi mudanya. Politisi licin yang terus mendominasi di lingkaran kekuasaan dan parlemen. Sakit kronis mendera tubuh dan badai krisis yang menghantam diri. Hambarnya ukhuwah dan lemahnya pelita persaudaraan iman yang telah lama dibangun. Kepergian orang-orang dekat kita. PHK dari tempat kerja dan seterusnya. Itu semua merupakan contoh dari keterkejutan yang mungkin menyapa kita. Menyiapkan diri sebaik mungkin agar kita siap sedia menghadapi keterkejutan, merupakan upaya mengatur nafas dan pasang kuda-kuda menghadapi serangan keterkejutan yang datang secara tiba-tiba, tanpa memberi aba-aba dan mengetuk pintu hati kita. Saudaraku.. Syekh Mustafa Siba’i, dalam salah satu karyanya “hakadza ‘alllamatnil hayat”, membagi pengalamannya kepada kita, mengenai kiat-kiat menghadapi keterkejutan. Ia menulis: Jangan panik jika bencana datang menyapa kita, dan jangan pernah berputus asa, sebab ia pasti akan berlalu. Jika zaman telah berubah jangan membuat kita terkejut karenanya, dan jangan membuat kita berkeluh kesah. Jika kita rasakan sahabat telah banyak berubah, jangan terpancing untuk mengobral aib dan kekurangannya kepada orang lain. Jangan terkejut jika sakit kronis mendera kita, dan jangan mengeluarkan suara rintihan keras pertanda kita terpukul karenanya. Jika kita saksikan masyarakat telah terpuruk, jangan pernah kita remehkan perkara tersebut. Jika kita diperintah oleh orang-orang yang berperangai buruk, jangan pernah terkejut dan berputus asa, sebab suatu saat jatah kekuasaan mereka akan usai. Jika kita disapa penyakit yang mendera tubuh, jangan berputus asa dari rahmat-Nya. Jika kita melihat dunia tak seperti yang kita damba, ketahuilah bahwa hal itu merupakan sunnah kehidupan. Jika kejahatan menyebar di sebuah negeri, berbuatlah semampu kita untuk mencegahnya. Jika tidak, tunggulah sampai kesempatan itu datang menyapa kita untuk merubahnya. Jangan pernah berputus asa menyaksikan masyarakat tempat kita hidup tengah terjangkit penyakit berbahaya, yang membuat kening kita berkerut menahan sakit. Jika kebohongan dan kebathilan menjadi barang yang laris manis di masyarakat, jangan pernah ragu bahwa suatu saat nanti pasti Allah akan membuka kedok kepalsuan itu. Saudaraku.. Bila kita merenungi nasihat guru kita dari Siria di atas, dapat kita himpun kiat-kiat menghadapi keterkejutan yang menyapa kita adalah sebagai berikut: • Menghindarkan diri dari segala warna kepanikan. • Sikapi keterkejutan itu sebagai bentuk ujian Allah Swt. • Keterkejutan merupakan sunnah kehidupan (garis ketetapan hidup) atau takdir Ilahi. • Kembalikan segala persoalan kepada Allah Swt. • Tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt. • Ada usaha maksimal dan ikhtiyar mencari sebab serta mengambil peran aktif menyisiri keterkejutan hidup. Saudaraku.. Jika keenam hal tersebut mampu kita siapkan dalam hidup ini, insyaallah kita dapat melewati keterkejutan dengan tenang tanpa ada kepanikan berlebihan. Justru keterkejutan dapat kita maknai sebagai hentakan teguran dari-Nya dan sapaan kasih sayang dan cinta-Nya. Wallahu a’lam bishawab. Riyadh, 28 April 2012 M Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far

Muhibbah With 22

- See more at: http://blog-triks.blogspot.com/2011/05/pasang-emoticon-di-kotak-komentar-versi.html#sthash.hlofDInd.dpuf